Sibolga – Survei Ungkap Warga Sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak warga Indonesia yang merasa putus asa dalam mencari lowongan kerja. Ketidakpastian di pasar tenaga kerja, ketatnya persaingan, dan tuntutan persyaratan yang tinggi menjadi penyebab utama.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025, jumlah penganggur di Indonesia mencapai sekitar 7,28 juta orang.
Angka pengangguran terbuka (TPT) adalah 4,76% dari total angkatan kerja, yang menunjukkan bahwa hampir 5 dari 100 orang yang siap bekerja belum mendapatkan pekerjaan.
Dalam definisi pengangguran oleh BPS, termasuk di dalamnya orang yang merasa “tidak mungkin mendapatkan pekerjaan” atau sudah “putus asa”. Artinya, mereka sudah tidak aktif mencari kerja lagi karena frustasi.
Survei dari Populix bekerja sama dengan KitaLulus melakukan penelitian pada pencari kerja di Indonesia dan menemukan sebanyak 43% responden menyebut bahwa mencari pekerjaan saat ini sangat sulit.
Beberapa lainnya juga menyebut batasan umur sebagai penghambat.

Baca Juga : Putusan MK TNI Masih Pertimbangkan Polisikan Ferry Irwandi
(Analisis berdasarkan laporan media dan pengalaman pencari kerja)
Ketika ia melamar, pengalamannya mengatakan bahwa umur menjadi alasan penolakan.
Survei LinkedIn menunjukkan bahwa sekitar 70% karyawan di Indonesia aktif mencari peluang kerja baru, yang mengindikasikan ketidakpuasan terhadap kondisi kerja yang ada, tetapi banyak di antaranya mengeluhkan bahwa proses mendapatkan respons sangat
(Analisis berdasarkan berbagai laporan regional)
Dari sisi perusahaan juga muncul masalah. Riset yang sama menunjukkan bahwa 46% perusahaan mengalami kesulitan menemukan calon karyawan yang cocok dengan kriteria mereka, terutama karena perbedaan antara keterampilan yang diminta dan yang dimiliki pelamar.
Kesenjangan keterampilan (skills mismatch) menjadi salah satu isu sentral.
Tingginya standar yang diminta perusahaan — baik dari sisi pendidikan, pengalaman, maupun persyaratan administratif — juga dianggap memberatkan pelamar, terutama mereka dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah. (Analisis umum)
Bagi lulusan baru (fresh graduates), persaingan semakin berat. Banyak yang mengirimkan puluhan, bahkan ratusan lamaran tanpa satu pun mendapat panggilan wawancara. Ini kemudian memicu rasa putus asa.
Di sisi lain, munculnya penipuan lowongan kerja atau iklan tidak jelas di media sosial juga memperburuk kepercayaan pencari kerja. Mereka menghabiskan waktu dan tenaga untuk melamar ke lowongan yang ternyata scam.
Kompas
Waktu tunggu yang lama antara pengiriman lamaran sampai keputusan dari perusahaan juga menjadi keluhan umum. Kadang tidak ada kepastian kapan kandidat bisa tahu hasilnya. (Analisis dari laporan pengalaman pelamar) (Analisis pengalaman)
Menurut survei Populix‑KitaLulus, selain pengalaman dan pendidikan, faktor usia menjadi kendala penting.





![arsitektur-kontemporer-adalah[1]](http://halepsamikecisi.com/wp-content/uploads/2025/10/arsitektur-kontemporer-adalah1-148x111.jpg)