Sibolga – Pertemuan Menlu Menhan strategis antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan Perdana Menteri Australia digelar pada Jumat, 30 Agustus 2025, di Canberra, Australia.
Pertemuan ini merupakan bagian dari agenda diplomasi tahunan antara kedua negara dalam kerangka 2+2 Dialogue, yang mempertemukan empat pejabat tinggi di bidang luar negeri dan pertahanan.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menlu Retno Marsudi dan Menhan Prabowo Subianto, sementara pihak Australia diwakili oleh Menlu Penny Wong, Menhan Richard Marles, serta dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Anthony Albanese.
/4rdjh1u84qyuu8q.jpeg)
Baca Juga : Ketua Fraksi PAN Minta Penanganan Kasus Affan Ojol Transparan dan Adil
Pertemuan ini menjadi penanda penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan Australia di tengah dinamika kawasan Indo-Pasifik yang terus berkembang.
Dalam ini sambutannya, PM Albanese menekankan pentingnya hubungan bilateral kedua negara yang telah berjalan erat selama lebih dari tujuh dekade.
Retno juga menekankan bahwa Indonesia dan Australia harus menjadi jangkar stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.
Menhan Prabowo menyatakan bahwa kerja sama pertahanan ini kedua negara telah menunjukkan kemajuan signifikan, terutama dalam hal pelatihan militer bersama dan peningkatan interoperabilitas.
ini Ia menambahkan bahwa Indonesia mendukung peningkatan diplomasi pertahanan yang tetap menjunjung prinsip non-blok dan kedaulatan nasional.
Pertemuan ini juga membahas situasi keamanan di Laut China Selatan dan pentingnya penegakan hukum internasional berdasarkan UNCLOS 1982.
Isu Myanmar turut menjadi pembahasan penting, di mana Indonesia dan Australia mendukung implementasi Konsensus Lima Poin ASEAN.
Indonesia mengundang Australia untuk lebih banyak berinvestasi di sektor hilirisasi industri dan transisi energi.
Australia menyambut ajakan tersebut dan menyatakan kesiapan untuk memperluas kerja sama di sektor mineral kritis, seperti nikel dan lithium.
ini Pertemuan empat pihak ini turut membahas tantangan terorisme dan ekstremisme yang masih menjadi ancaman lintas batas.
Indonesia dan Australia sepakat memperkuat kerja sama intelijen dan pertukaran informasi untuk mencegah radikalisasi dan jaringan teror global.






